Translate in :

Senin, 06 Oktober 2014

Kisah di Balik Ayat 1000 Dinar



Alkisah, beribu tahun yang lalu, hiduplah seorang tukang tepung yang sangatlah miskin. Ia dan keluarganya yang tinggal di pinggir laut selalu hidup dalam kekurangan. Namun ia tetap rajin bekerja setiap hari membuat tepung dan tak lupa bersyukur kepada Tuhan karena masih
dikaruniai kesehatan dan juga kekayaan berupa istri dan anak-anaknya. Meski menurut standar ekonomi setempat, mereka adalah keluarga paling miskin yang pernah hidup di daerah itu.

Suatu hari, ia menyadari bahwa beberapa hari terakhir, setiap ia bangun pagi, tepungnya berkurang! Jika pada malam harinya ia telah menghasilkan tiga tong, maka di pagi harinya tepungnya hanya tersisa satu setengah tong.
Ia mengira mungkin seseorang telah mencuri tepungnya setiap malam. Namun ia tak sedih atau marah. Ia justru mendoakan pencurinya agar bisa hidup lebih baik. Mungkin pencuri itu lebih miskin darinya, dan lebih membutuhkan tepung itu daripadanya. Sang Tukang Tepung pun bersyukur kepada Tuhan karena hidupnya masih lebih baik dari orang lain. (Hmm, percayakah Anda kalau ada manusia yang bisa semurni itu? Ya, memang ada. Saya dan Anda pun bisa :))
Beberapa hari berikutnya, tiba-tiba berlabuhlah sebuah kapal yang sangat besar dan megah. Itu adalah kapal kerajaan dari negeri seberang. Si Tukang Tepung dan keluarganya pun ternganga melihat kapal mewah itu.
Lalu tampaklah rombongan awak kapal turun dan berjalan ke arah si Tukang Tepung dan keluarganya yang berjejer berdiri di depan gubuk mereka. Rupanya rombongan tersebut adalah Raja bersama para pengawalnya.
Tak disangka sang Raja langsung mendekati si Tukang Tepung dan bertanya, “Hai orang negeri seberang, kulihat di sini banyak tepung. Apakah kau mengenal tukang tepung di daerah sini?”
“Oh, sayalah tukang tepungnya, Tuan, satu-satunya di daerah sini,” kata si Tukang Tepung sambil gemetaran, karena takut kalau-kalau ia telah berbuat salah.
“Oh, kalau begitu, kaulah yang telah menyelamatkan kapalku dari bencana karam. Maka kau berhak akan hadiah ini,” kata sang Raja sambil memerintahkan pengawalnya untuk memberikan kantong besar yang dibawanya kepada si Tukang Tepung. “Ini nazarku untuk penyelamat kapalku. Isinya uang seribu Dinar.”
Maka, mendadak keluarga Tukang Tepung menjadi keluarga terkaya yang pernah hidup di daerah itu, dan termasyhur pula namanya turun temurun.
~ 0 ~ 0 ~
Demikianlah cerita si Tukang Tepung yang hatinya semurni emas. Ia mendapat balasan atas kebaikannya beribu kali lipat dari Tuhan…
Apakah Anda kebingungan dan bertanya-tanya seperti si Tukang Tepung? Bagaimana ia bisa menjadi penyelamat kapal sang Raja?
flashback ~
Begini ceritanya…
Ketika kapal kerajaan sedang terombang-ambing di lautan, karena sesuatu sebab, ada bagian dasar kapal yang bocor sehingga air mulai masuk ke dalam. Penghuni kapal menjadi panik karena air cepat sekali masuk dan lubang semakin besar.
Lalu datanglah pertolongan dari Allah. Diperintahkan jin-jin laut untuk mengambil tepung milik penduduk di pulau terdekat untuk menambal kapal tersebut. Pekerjaannya memakan waktu berhari-hari, namun akhirnya kapal pun tak jadi tenggelam.
Ketika Raja melihat bahwa kapalnya berhasil ditambal dengan tepung begitu banyak yang secara ghaib didatangkan ke kapalnya, maka ia bernazar untuk memberi hadiah kepada tukang tepung yang nanti ditemuinya di daratan. Hadiahnya berupa uang sejumlah seribu Dinar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar